Tampil di panggung kehormatan untuk menerima anugerah sebagai pemain terbaik 2009 di markas FIFA di Zurich, Swiss, Selasa lalu, Lionel Messi terbang ke Argentina sehari kemudian.
Penyerang Barcelona itu menikmati liburan di kampung halamannya, Rosario, Santa Fe, bersama orang-orang tercinta: kedua orang tuanya, Jorge dan Celia; kedua kakak laki-laki, Rodrigo dan Matias; serta adik perempuannya, Maria Sol.
Ada satu orang tercinta yang terlewat, yaitu sang nenek, yang bernama sama dengan ibunya, Celia. Si nenek meninggal pada 1998, jauh sebelum Messi memborong begitu banyak gelar individual tahun ini: pemain terbaik Eropa, pemain terbaik dunia, pemain terbaik Piala Dunia Antarklub, juga pemain-pemain terbaik versi lain. "Tanpa nenek, saya tak akan meraih semua itu."
Messi lahir di Rosario, 24 Juni 1987. Dia sudah menendang-nendang apa pun yang berbentuk bulat--dari plastik, potongan-potongan kain, hingga potongan karet--pada usia dua tahun. Neneknya adalah orang pertama yang membelikan Messi bola plastik pada usia tiga tahun. Saat sang ibu khawatir Messi terluka karena berbenturan dengan teman-temannya yang memiliki fisik lebih besar, si nenek malah berseru, "Biarkan anakmu bermain bola, itu tak akan membuatnya terluka."
Messi bukan berasal dari keluarga berpunya, meski juga tidak miskin. Ayahnya, Jorge, seorang supervisor bagian kawat duri di perusahaan baja Acindar. Ibunya petugas cleaning service paruh waktu. Di sela pekerjaannya, Jorge terkadang melatih anak-anak di kampungnya bermain bola, termasuk Rodrigo dan Matias.
Namun mata Nenek Celia lebih tajam daripada menantunya, Jorge, dalam melihat bakat Messi. Satu hari pada 1992, sang nenek mendatangi pelatih klub lokal, Grandoli, Salvador Aparicio. "Don Apa (Aparicio), lihatlah permainan Leo, betapa uniknya permainan cucuku." Kalimat itu masih diingat betul oleh Aparicio sampai sekarang.
Rumah Aparicio cuma berjarak beberapa blok dari rumah keluarga Messi. Sebagai tetangga yang baik, Aparicio memenuhi permintaan Dona Celia untuk menguji kemampuan Messi. Dan sebenarnya Aparicio sendiri telah kerap mengamati Messi bila menendang-nendangkan bola ke tembok, trotoar, atau apa pun yang ada di lingkungan mereka.
"Saya memberinya bola dan anak itu memainkannya seperti telah memainkan bola sepanjang hidupnya," kata Aparicio mengenang. Pelatih Grandoli ini langsung merekrut Messi di klub anak-anaknya. Saat itu Messi berusia lima tahun. Sang ayah, Jorge, memuji upaya ibu mertuanya itu di kemudian hari. "Ibu saya memiliki visi yang tajam."
Tiga tahun setelah itu, pada 1995, Messi berhasil menembus klub anak-anak milik Newell's Old Boys, satu dari dua klub besar di Provinsi Santa Fe. Cerita soal anak yang memiliki bakat sebesar Maradona pun lebih tersiar luas. "Orang-orang rela membeli tiket sekadar melihat Leo berlatih," kata Jorge bangga.
"Tubuhnya lebih kecil dari teman-teman seusianya, apalagi dengan teman-temannya yang lebih tua," ujar salah seorang guru sekolah dasar Messi, Diana Ferretti. "Tapi dia jenius. Leo kerap membuat saya tertawa karena semua temannya menjadi tampak bodoh bila Leo mempermainkan bola."
Para penggemar Newell's Old Boys menjuluki Messi, El Enano (si kerdil), sedangkan kakaknya, Rodrigo, memanggilnya El Pulga (si kutu). Kedua-duanya merujuk pada fisik Messi yang mungil, tapi merepotkan setiap pemain tim lawan.
Carlos Morales, pelatih yang empat tahun menangani Messi di Newell's, mengingat murid kesayangannya itu sebagai pemain yang pendiam. "Leo tak banyak bicara, tapi dia sangat disiplin dan seorang pendengar yang baik. "Setiap berangkat berlatih, Messi membersihkan sepatunya sendiri, menyiapkan perlengkapan, dan, meski dia merayakan ulang tahun, dia tetap tidur tak terlalu larut untuk menjaga kondisi.
Nenek Celia tentu saja sangat bangga. Upayanya memompa bakat sang cucu tidak sia-sia. Sayangnya, si nenek tak bisa melihat Messi beroleh kebesaran yang lebih besar. Nenek Celia meninggal pada 1998 saat Messi masih di Newell's Old Boys.
Namun sang nenek masih mengikuti perjalanan sulit cucunya pada masa kanak-kanak. Ini berkaitan dengan ketidaknormalan perkembangan hormon pertumbuhan Messi. "Bila tidak diatasi, pertumbuhan badannya akan berhenti pada 150 sentimeter, tidak lebih," kata Jorge.
Sejak awal 1998, Messi membawa ke mana-mana kotak obat yang berisi hormon pertumbuhan. "Dia kerap bermain di rumah saya," kata salah seorang sahabatnya sekaligus rekan di tim anak-anak Newell's, Lucas Scaglia. "Bila dia bermalam di rumah saya, dia datang dan langsung meletakkan kotak obatnya di dalam kulkas. Setelah petang, dia ke dapur untuk menyuntik dirinya. Setelah itu, dia kembali bermain dengan saya seperti tak terjadi apa-apa."
Messi masih mengingat masa-masa itu. "Saya menyuntikkan obat seperti menggosok gigi. Pada awalnya, orang-orang heran dan bertanya, untuk apa saya melakukannya. Setelah terbiasa, mereka pun jadi biasa melihat saya membawa kotak obat dan menyuntik diri sendiri."
Jorge mengandalkan asuransi kesehatan keluarga dan asuransi dari perusahaannya untuk membeli hormon itu. Biayanya sebesar US$ 1.000-1.500 (sekitar Rp 9,5-14 juta). Ketika krisis ekonomi melanda Argentina, perusahaan Jorge terkena imbasnya juga.
Jorge tak lagi punya uang berlebih untuk membiayai kesehatan anaknya. Presiden Newell's Sergio Almiron juga angkat tangan dan cuma bisa membantu dengan mengirimi Jorge uang 200 peso (sekitar Rp 500 ribu) sebanyak dua kali.
Jorge berinisiatif membawa Messi ke klub yang lebih besar, yaitu River Plate, salah satu klub ternama di ibu kota negara, Buenos Aires. Kenyataannya, River menampik karena tak mampu menanggung biaya pengobatan Messi.
"Malaikat penolong" datang. Namanya Josep Maria Minguella, agen pencari bakat bagi Barcelona. "Saya tak terbiasa mencari pemain yang terlalu muda bagi Barca," katanya. "Namun dua rekan kerja saya di Argentina memaksa saya untuk menengok, yang kata mereka seorang calon pemain fenomenal."
Messi pun mendapatkan kesempatan untuk memperagakan permainannya di hadapan Presiden Barcelona saat itu, Carlos Rexach. Sang Presiden kesengsem berat. Messi bersama ayahnya berada di markas Barcelona selama dua pekan. Setelah itu, Jorge, sang ayah, menggertak Barcelona dengan mengatakan, "Kontrak anak saya dan bawa serta semua keluarganya ke sini, atau saya akan mencari klub lain."
Rexach mengabulkan permintaan itu. Di kemudian hari, kedua belah pihak mensyukuri kesepakatan yang mereka buat: Messi mendapat perawatan kesehatan dan beroleh wadah yang tepat untuk bakatnya, sedangkan Barcelona mendapat pelayanan istimewa dari Messi. Tinggi tubuh Messi pada usianya yang sekarang 22 tahun adalah 169 sentimeter, lewat banyak dari sekadar 150 sentimeter, seperti diagnosis awal.
Bersama Messi, La Blaugrana--julukan Barcelona--mengumpulkan tiga gelar Liga Spanyol, satu Piala Raja, tiga Piala Super Spanyol, dua gelar Liga Champions, satu Piala Super Eropa, dan meraih juara Piala Dunia Antarklub untuk pertama kalinya. Di surga sana, Nenek Celia pasti tersenyum puas untuk cucu tercinta.
www.tempointeraktif.com
Penyerang Barcelona itu menikmati liburan di kampung halamannya, Rosario, Santa Fe, bersama orang-orang tercinta: kedua orang tuanya, Jorge dan Celia; kedua kakak laki-laki, Rodrigo dan Matias; serta adik perempuannya, Maria Sol.
Ada satu orang tercinta yang terlewat, yaitu sang nenek, yang bernama sama dengan ibunya, Celia. Si nenek meninggal pada 1998, jauh sebelum Messi memborong begitu banyak gelar individual tahun ini: pemain terbaik Eropa, pemain terbaik dunia, pemain terbaik Piala Dunia Antarklub, juga pemain-pemain terbaik versi lain. "Tanpa nenek, saya tak akan meraih semua itu."
Messi lahir di Rosario, 24 Juni 1987. Dia sudah menendang-nendang apa pun yang berbentuk bulat--dari plastik, potongan-potongan kain, hingga potongan karet--pada usia dua tahun. Neneknya adalah orang pertama yang membelikan Messi bola plastik pada usia tiga tahun. Saat sang ibu khawatir Messi terluka karena berbenturan dengan teman-temannya yang memiliki fisik lebih besar, si nenek malah berseru, "Biarkan anakmu bermain bola, itu tak akan membuatnya terluka."
Messi bukan berasal dari keluarga berpunya, meski juga tidak miskin. Ayahnya, Jorge, seorang supervisor bagian kawat duri di perusahaan baja Acindar. Ibunya petugas cleaning service paruh waktu. Di sela pekerjaannya, Jorge terkadang melatih anak-anak di kampungnya bermain bola, termasuk Rodrigo dan Matias.
Namun mata Nenek Celia lebih tajam daripada menantunya, Jorge, dalam melihat bakat Messi. Satu hari pada 1992, sang nenek mendatangi pelatih klub lokal, Grandoli, Salvador Aparicio. "Don Apa (Aparicio), lihatlah permainan Leo, betapa uniknya permainan cucuku." Kalimat itu masih diingat betul oleh Aparicio sampai sekarang.
Rumah Aparicio cuma berjarak beberapa blok dari rumah keluarga Messi. Sebagai tetangga yang baik, Aparicio memenuhi permintaan Dona Celia untuk menguji kemampuan Messi. Dan sebenarnya Aparicio sendiri telah kerap mengamati Messi bila menendang-nendangkan bola ke tembok, trotoar, atau apa pun yang ada di lingkungan mereka.
"Saya memberinya bola dan anak itu memainkannya seperti telah memainkan bola sepanjang hidupnya," kata Aparicio mengenang. Pelatih Grandoli ini langsung merekrut Messi di klub anak-anaknya. Saat itu Messi berusia lima tahun. Sang ayah, Jorge, memuji upaya ibu mertuanya itu di kemudian hari. "Ibu saya memiliki visi yang tajam."
Tiga tahun setelah itu, pada 1995, Messi berhasil menembus klub anak-anak milik Newell's Old Boys, satu dari dua klub besar di Provinsi Santa Fe. Cerita soal anak yang memiliki bakat sebesar Maradona pun lebih tersiar luas. "Orang-orang rela membeli tiket sekadar melihat Leo berlatih," kata Jorge bangga.
"Tubuhnya lebih kecil dari teman-teman seusianya, apalagi dengan teman-temannya yang lebih tua," ujar salah seorang guru sekolah dasar Messi, Diana Ferretti. "Tapi dia jenius. Leo kerap membuat saya tertawa karena semua temannya menjadi tampak bodoh bila Leo mempermainkan bola."
Para penggemar Newell's Old Boys menjuluki Messi, El Enano (si kerdil), sedangkan kakaknya, Rodrigo, memanggilnya El Pulga (si kutu). Kedua-duanya merujuk pada fisik Messi yang mungil, tapi merepotkan setiap pemain tim lawan.
Carlos Morales, pelatih yang empat tahun menangani Messi di Newell's, mengingat murid kesayangannya itu sebagai pemain yang pendiam. "Leo tak banyak bicara, tapi dia sangat disiplin dan seorang pendengar yang baik. "Setiap berangkat berlatih, Messi membersihkan sepatunya sendiri, menyiapkan perlengkapan, dan, meski dia merayakan ulang tahun, dia tetap tidur tak terlalu larut untuk menjaga kondisi.
Nenek Celia tentu saja sangat bangga. Upayanya memompa bakat sang cucu tidak sia-sia. Sayangnya, si nenek tak bisa melihat Messi beroleh kebesaran yang lebih besar. Nenek Celia meninggal pada 1998 saat Messi masih di Newell's Old Boys.
Namun sang nenek masih mengikuti perjalanan sulit cucunya pada masa kanak-kanak. Ini berkaitan dengan ketidaknormalan perkembangan hormon pertumbuhan Messi. "Bila tidak diatasi, pertumbuhan badannya akan berhenti pada 150 sentimeter, tidak lebih," kata Jorge.
Sejak awal 1998, Messi membawa ke mana-mana kotak obat yang berisi hormon pertumbuhan. "Dia kerap bermain di rumah saya," kata salah seorang sahabatnya sekaligus rekan di tim anak-anak Newell's, Lucas Scaglia. "Bila dia bermalam di rumah saya, dia datang dan langsung meletakkan kotak obatnya di dalam kulkas. Setelah petang, dia ke dapur untuk menyuntik dirinya. Setelah itu, dia kembali bermain dengan saya seperti tak terjadi apa-apa."
Messi masih mengingat masa-masa itu. "Saya menyuntikkan obat seperti menggosok gigi. Pada awalnya, orang-orang heran dan bertanya, untuk apa saya melakukannya. Setelah terbiasa, mereka pun jadi biasa melihat saya membawa kotak obat dan menyuntik diri sendiri."
Jorge mengandalkan asuransi kesehatan keluarga dan asuransi dari perusahaannya untuk membeli hormon itu. Biayanya sebesar US$ 1.000-1.500 (sekitar Rp 9,5-14 juta). Ketika krisis ekonomi melanda Argentina, perusahaan Jorge terkena imbasnya juga.
Jorge tak lagi punya uang berlebih untuk membiayai kesehatan anaknya. Presiden Newell's Sergio Almiron juga angkat tangan dan cuma bisa membantu dengan mengirimi Jorge uang 200 peso (sekitar Rp 500 ribu) sebanyak dua kali.
Jorge berinisiatif membawa Messi ke klub yang lebih besar, yaitu River Plate, salah satu klub ternama di ibu kota negara, Buenos Aires. Kenyataannya, River menampik karena tak mampu menanggung biaya pengobatan Messi.
"Malaikat penolong" datang. Namanya Josep Maria Minguella, agen pencari bakat bagi Barcelona. "Saya tak terbiasa mencari pemain yang terlalu muda bagi Barca," katanya. "Namun dua rekan kerja saya di Argentina memaksa saya untuk menengok, yang kata mereka seorang calon pemain fenomenal."
Messi pun mendapatkan kesempatan untuk memperagakan permainannya di hadapan Presiden Barcelona saat itu, Carlos Rexach. Sang Presiden kesengsem berat. Messi bersama ayahnya berada di markas Barcelona selama dua pekan. Setelah itu, Jorge, sang ayah, menggertak Barcelona dengan mengatakan, "Kontrak anak saya dan bawa serta semua keluarganya ke sini, atau saya akan mencari klub lain."
Rexach mengabulkan permintaan itu. Di kemudian hari, kedua belah pihak mensyukuri kesepakatan yang mereka buat: Messi mendapat perawatan kesehatan dan beroleh wadah yang tepat untuk bakatnya, sedangkan Barcelona mendapat pelayanan istimewa dari Messi. Tinggi tubuh Messi pada usianya yang sekarang 22 tahun adalah 169 sentimeter, lewat banyak dari sekadar 150 sentimeter, seperti diagnosis awal.
Bersama Messi, La Blaugrana--julukan Barcelona--mengumpulkan tiga gelar Liga Spanyol, satu Piala Raja, tiga Piala Super Spanyol, dua gelar Liga Champions, satu Piala Super Eropa, dan meraih juara Piala Dunia Antarklub untuk pertama kalinya. Di surga sana, Nenek Celia pasti tersenyum puas untuk cucu tercinta.
www.tempointeraktif.com


